Minggu, 01 Oktober 2017

Catatan Sejarah Pergerakan Samanhudi di Laweyan

H. Samanhudi


Solo, 23 September 2017 – Mahasiswa UNS yang tergabung dalam Sekolah Penerus Bangsa melakukan kunjungan ke Museum Samanhudi, di Balai Kelurahan Desa Sondakan. Mempelajari lebih dalam catatan sejarah tentang Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi pada Oktober 1905.

Dalam kunjungangannya, mahasiswa dibagi menjadi 2 kloter yang setiap kloter terdiri atas empat kelompok. Selain museum, juga mengunjungi rumah Samanhudi (rumah asli dan juga rumah pemberian Soekarno), Masjid Laweyan, makam Samanhudi dan Tugu Batik.
 
Acara yang pertama, mahasiswa disuguhkan materi pembuka tentang sejarah singkat H. Samanhudi oleh bapak Suwardi, S.Pd, pengembang Museum Samanhudi.

“Samanhudi itu dulu bernama Sudarno Nadi. Beliau putra dari Ahmad Zein. Kakeknya, Kartowikoro. Kemudian setelah Samanhudi menikah dengan Suginah, nama beliau berubah menjadi Wiryo Wikoro. Tetapi setelah beliau naik haji, namanya berganti lagi menjadi H. Samanhudi” ungkap pak Suwardi.

Bungker di Rumah Samanhudi
Setelah itu, dilanjutkan kembali cerita tentang sejarah Museum Samanhudi oleh Ibu Santi Handayani, staf kepariwisataan Kelurahan Sondakan. Waktu itu, museum Samanhudi terletak di Rumah Samanhudi, Laweyan. Karena kurang terurus, museum ini dipindahkan ke Balai Kelurahan Sondakan dan menempati ruang yang sebelumnya adalah Rumah Dinas Lurah Sondakan.

Kemudian, mahasiwa didampingi oleh Mas Aziz (tour guide) untuk memasuki museum. Menelisik sejarah lebih dalam tentang Samanhudi dan SDI.
Jembatan di Kali Kabanaran (depan Masjid Laweyan)
Samanhudi lahir pada 1968 di Laweyan, yang lokasinya tidak jauh dari museum ini. Beliau berperan dalam membangkitkan perekonomian di lingkungannya yang berpotensi sebagai pengrajin batik dengan wujud filantropi dan ekonomi kerakyatan. Suatu rasa keresahan akan ketidakadilan dan kemelaratan, yang menjadi dasar bagi Samanhudi untuk memulai pergerakannya. Hingga sampai sekarang, Laweyan tetap terkenal sebagai kampung batik di Solo.

Tugu Batik

Kunjungan dilanjutkan ke Masjid Laweyan, masjid peninggalan kerajaan Pajang di Solo yang berada di pinggir Kali Kabanaran (dulunya jembatan di kali ini difungsikan sebagai pusat perdagangan). Lalu melewati rumah Pemberian Soekarno yang diberikan sebagai wujud penghargaan kepada Samanhudi pada 1962, enam tahun setelah Samanhudi meninggal dunia. Kemudian berziarah ke makam Samanhudi, yang disampingnya juga ada makam istri pertama beliau, Suginah. Setelah itu Tugu Batik dan yang terakhir menuju Rumah asli Samanhudi, yang di dalamya terdapat bunker (tempat Samanhudi berlindung dan merencanakan pergerakannya).


Museum Samanhudi, Sondakan, Laweyan
Makam H. Samanhudi




Jumat, 22 September 2017

Rumah Singgah




Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sebuah cerita yang sangat menarik karena banyak pesan yang bisa kita petik di dalamnya. Sampai akhirnya harapan ini pun terinspirasi dari novel karya Tere Liye tersebut. Sebuah Rumah Singgah untuk anak jalanan. Sebenarnya sudah banyak direalisasikan untuk membantu anak-anak jalanan di Indonesia. Tetapi tak apa, karena semakin banyak akan semakin baik. 

Salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan adalah adanya pengetahuan. Namun, pengetahuan tanpa didasari agama bisa menjadi malapetaka. Agama adalah pondasi dan tak terpisahkan dari ilmu pengetahuan. Seseorang perlu iman di dalam dirinya, perlu bekal sejak dini, karena makin lama makin keras dan sulit dibentuk.

Rumah singgah, yang membedakan dengan sekolah adalah status dan kepemilikan. Tetapi tujuan tetap sama. Di dalamnya akan diajarkan bidang akademik dan non akadeimik. Mengedepankan ilmu pengetahuan dengan panji-panji agama. Di sisi lain, UNS adalah kampus pancasila, maka rumah ini pun Rumah Singgah Pancasila.